Balik untuk kebaikan

Salam,

I'm back, alhamdulillah.

Waktu sekolah dulu, ada jamuan form five. Farewell party gituhaa gaya islami budak sekolah agama haha. I cried, because I can't imagine life without people and surrounding I've been with for the past five years. So you see, I was (am?) kinda person that is attached to people, to place, to memories.

Now I've left the place that I am really accustomed to. Tempat kita membesar, mematang (er), mengenal erti kehidupan, melazimi dunia dakwah dan tarbiyah. Saya melihat orang-orang, yang lepas beberapa tahun balik for good pun masih attached dan merindu-rindu kehidupan di luar negara. Bukan nak kata orang lain obses, ala biasa la kadang nak jadi expressive sikit en di dunia maya, i totally understand that. But that also makes me ponder, who do i want to be in the future?

I tried to make most of my time during musafeer, making a lot of prayers. Mungkin makcik New Zealand di belah kiri dan di belah kanan makcik ramah Indian Malaysian yang menetap di Ostolia pun merasa pelik dengan tingkah laku gadis manis yang duduk di tengah-tengah mereka ini. Saya bayangkan dan sebut nama semua orang - teman seperjuangan, usrahmates, kakak-kakak, anak-anak usrah, adik-adik yang masih segar dalam tarbiyah. Allah knows how much I want to be with everyone, tengok dan sapot semua orang membesar. Membesar dan bergaduh bersama-sama.
Laa haula walaa quwwata illa billah.

I want to move on, insyaallah. Untuk yang ditinggalkan dan yang meninggalkan, takde apa yang boleh permanently ikat kita melainkan tauhid ilallah, dan amal kita. Kita sungguh-sungguh di mana medan yang kita berada, pastu kita reunion kat Jannah okay? Insyaallah.

Make duu'a for me sister, its Ramadhan. :)

Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Powered by Blogger.

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.